Praktisi Internet Marketing, Bisnis Online, SEO dan UKM. Serius Tapi Santai.

Latest News
praktisi-internet-marketing
~ Assalamualaikum, Semoga Keberkahan senantiasa tercurah kepada kita semua !!! ~

Emosi Sesaat - Penyakit Manusia Dari Nabi hingga Da'i Modern

Penyakit sesaat Manusia Dari Nabi Hingga Da'i Modern
"Dan (Ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim." Maka Kami telah memperkenankan do'anya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman" (Al-Anbiya: 87-88)."

Nabi Yunus tersinggung "Emosi". Akibat dari emosinya itu Yunus mengalami:

1. Tumpul Ilmu Pengetahuan.

Al-Qur'an menyebutkan kondisi keyakinan Yunus dengan kalimat "lalu ia menyangka bahwa Kami (Allah) tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya)". Perhatikan bagaimana bisa terjadi seorang "Da'i" dan "Mubaligh" yang selama ini mengajarkan ke-Esa-an Tuhan dengan segala sifatnya, tiba-tiba beranggapan bahwa Tuhan tak memiliki kuasa untuk membuatnya menderita. Lalu dikemanakan dalil-dalil yang selama ini dihafalkan dan dikuasainya? Bukankah selama ini ia mengajarkan kepada Manusia agar meyakini bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Besar, Maha Mengetahui dan Maha Kuasa? Demikianlah Emosi telah mengubah pikiran manusia dan membuat Ilmu Pengetahuan seseorang tak lagi berguna bagi hidupnya.

2. Salah Keputusan.

Bila seseorang marah, maka yang akan dia lakukan adalah salah satu di antara 2 pilihan. Bila ia merasa lemah menghadapi orang yang membuatnya marah, ia pun akan pergi meninggalkannya. Pada sebagian orang, kepergian itu akan disertai Sumpah Serapah. Namun bila Ia merasa kuat, maka ia akan melakukan tindakan kekerasan - misalnya memukul atau menginjak kepala - orang  yang membuatnya tersinggung itu. Yunus mengambil bentuk sikap pertama, pergi meninggalkan Jama'ahnya.

Sesungguhnya kerugian yang diakibatkan oleh emosi sesaat itu bukan hanya menimpa pelakunya, melainkan juga orang lain dan program yang dikerjakannya. Perhatikan bagaimana pada akhirnya Yunus mendapat celaka, Jadwal "Pengajian"  menjadi terbengkalai dan program dakwah tidak berjalan sesuai agenda.

Sungguh di balik keindahan dan kesejukan suhu udara yang selama ini ditiupkannya, ternyata Gunung Kelud menyimpan bara yang sangat panas. Kini panas itu tertumpah di tengah kehidupan dan menimbulkan kerusakan di mana-mana.

Sungguh, terkadang di balik busana kesalehan seseorang yang disertai dengan manisnya tutur kata yang meluncur dari lisannya, hatinya menyimpan bara nafsu angkara yang tiada sederhana. Kini bara itupun telah ditumpahkan kepada sebagian manusia hingga beritanya pun menyebar ke mana-mana, segala media meliput kejadiannya. Kita berharap semoga setelah Letusan itu akan ada kehidupan baru yang ditandai dengan kesuburan tanah. Semoga setelah peristiwa itu akan ada perubahan manusia dalam melihat perilaku sesamanya. Siapa tertipu penampilan, akan meraih penyesalan. Siapa tergoda senyuman, akan mendapat penyesalan.

Keyakinan dan Langkah salah yang diakibatkan oleh Emosi itu berbuah pahit. Yunus terpilih sebagai manusia yang harus dikeluarkan dari kapal karena Kelebihan kapasitas. Ia dicampakkan ke lautan dan dimakan ikan. Ketika akibat buruk sudah menimpa, seperti biasanya, barulah manusia menyesali kekeliruan langkahnya. Ia pun membenahi Jiwanya dengan 3 perkara yang seharusnya ditempuh oleh orang-orang yang salah langkah.

Pertama, Ikrar Pengakuan bahwa "Tidak ada Tuhan Selain Allah".

Di sini, Yunus mengokohkan kembali tentang jati dirinya sebagai hamba. Ia tak patut merasa punya hak untuk dimuliakan dan dihormati orang dengan ukurannya sendiri. Setiap orang akan dihormati sebatas kemampuan yang menghormatinya. Sebagai seorang Da'i ia tak perlu kecewa ketika tidak diperlakukan secara istimewa, karena sesungguhnya ia adalah "Karyawan" Tuhan, bukan karyawan manusia. Maka tak perlu ada yang diharapkan selain Penghargaan Tuhan.

Sesungguhnya tanda bahwa seseorang ingin dihormati dan diagungkan dapat dilihat dari cara ia berpenampilan. Barangsiapa menyibukkan dirinya dengan penampilan dan gaya pakaian yang berlebihan, dapat dipastikan bahwa ia tengah tenggelam dalam gila penghormatan. Sebaliknya mereka yang hidup dan tampil dalam kesederhanaan, pada sebagian besarnya mencerminkan kerendahan hatinya. Adalah menarik bahwa busana Nusantara dirasa paling tidak menarik dipergunakan Hatta oleh anak-anak bangsanya sendiri. Mereka lebih Pede tampil di muka umum jika menggunakan busana asing.

Kedua, mengakui Kelemahan diri.

Kalimat Tasbih "Subhanak" (Maha Suci Engkau) biasanya dipergunakan untuk menyatakan kelemahan diri dan ke Maha-Suci-an Allah. Hanya Allah yang tidak pernah melakukan Kesalahan dan kekeliruan. Dengan ungkapan itu Yunus hendak menyatakan bahwa dialah yang bersalah dalam prahara ini. Bukan ummat-nya, apalagi Tuhannya. Demikianlah seharusnya yang dilakukan oelh orang yang melakukan kesalahan dalam menjalankan tugasnya, tanpa kecuali - bahkan terlebih lagi - seorang Ustadz.

Seorang Da'i seharusnya memahami bahwa dalam banyak hal ia berbeda dengan jama'ahnya. Apa yang ada dalam hatinya bukan selalu yang ada di dalam hati jama'ahnya. Yang ada dalam pikiran Jama'ah tidak selalu sama sama dengan yang ada dalam pikirannya. Semestinya sebelum berdakwa, seorang da'i membekali diri dengan pengetahuan masalah ini.

Ketiga, Pengakuan akan kesalahan diri.

Hal ini terungkap melalui pernyataan Yunus, "Sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang Zalim". Demikianlah setiap orang yang akan melakukan perbaikan dan mengharap kemurahan Allah hendaknya mengakui kesalahan-nya. Yang demikian itu telah merupakan kebiasaan orang-orang saleh sebelumnya. Lihatlah Adam dan Hawwa ketika melakukan pelanggaran di dalam Al-Jannah, keduanya segera berkata:

"Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscara pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi" (Al-A'raf:23)

Semoga para Da'i kita bisa mengambil pelajaran, Aamiin YRA.

Hasbunallah.

Syarif Rahmat RA.

Tulisan ini di kutip dari Buletin Jum'at QUM.

Baca Juga:

0 Response to "Emosi Sesaat - Penyakit Manusia Dari Nabi hingga Da'i Modern"

Silahkan Berkomentar dengan Santun, Terimakasih.

Hotline : 0812-1342-3142
WhatsApp: 0812 1342 3142
/* Hot Line*/